Saat Pulang Membawa Rasa: Mengapa Lebaran Memicu Nostalgia?
Rasa rindu pada masa kecil, kenangan keluarga, tradisi yang diulang setiap tahun, hingga keterikatan sosial menjadi alasan mengapa perayaan ini begitu melekat dalam ingatan.
JAKARTA – Lebaran bukan sekadar momen religi atau liburan panjang bagi masyarakat Indonesia. Bagi banyak umat muslim, lebaran adalah pengalaman emosional yang kuat yang sering kali dipenuhi nostalgia.
Rasa rindu pada masa kecil, kenangan keluarga, tradisi yang diulang setiap tahun, hingga keterikatan sosial menjadi alasan mengapa perayaan ini begitu melekat dalam ingatan.
Sisi Emosional dari Momen Lebaran
Para peneliti psikologi dan antropologi budaya menyebut secara tidak langsung bahwa Lebaran memicu kenangan otobiografis, yaitu sebuah kenangan pribadi yang bermuatan emosi.
Kenangan itu cenderung diaktifkan kembali setiap tahun karena sifatnya yang berulang, bermakna dan penuh emosi.
1. Tradisi yang Berulang Membentuk Memori Emosional
Salah satu faktor utama nostalgia adalah ritme rutinitas yang stabil dan berulang setiap tahun.
Menurut ahli psikologi memori, Dr. Constantine Sedikides dari University of Southampton, nostalgia dipicu oleh kenangan autobiografis yang dikaitkan dengan rutinitas dan emosi positif.
Dalam arti ini, peristiwa yang terjadi secara teratur setiap tahun lebih mungkin terikat kuat dalam memori jangka panjang dibandingkan peristiwa yang jarang atau acak.
Karena Lebaran dirayakan setiap tahun secara konsisten, banyak pengalaman Lebaran menjadi “landmark” dalam memori pribadi seseorang.
2. Momennya Beririsan dengan Masa Kecil
Banyak orang Indonesia pertama kali merasakan Lebaran termasuk mudik, kumpul keluarga, dan makanan khas merupakan hal yang terjadi pada masa kanak‑kanak.
Menurut studi dari Journal of Personality and Social Psychology, kenangan masa kecil memiliki kecenderungan lebih kuat memicu nostalgia dibanding kenangan usia dewasa karena self‑defining memories (memori yang membentuk identitas diri) lebih sering terbentuk di masa muda.
Dalam survei yang dilakukan Global Nostalgia Project tahun 2023 yang melibatkan responden lintas negara (termasuk Indonesia), sekitar 74 persen responden mengatakan bahwa kenangan keluarga masa kecil adalah jenis kenangan paling bersifat nostalgia yang mereka ingat sepanjang hidup.
Lebaran termasuk di antara periode yang paling sering disebut responden karena mencakup tradisi keluarga, makanan khas, dan pengalaman emosional lainnya.
3. Silaturahmi Menguatkan Koneksi Emosional
Lebaran identik dengan kumpul keluarga besar, saling bermaafan, dan berbagi cerita. Dalam perspektif sosiologi, ritual sosial yang melibatkan interaksi muka‑ke‑muka cenderung memperkuat ikatan emosional antar‑anggota keluarga.
Menurut penelitian yang dipublikasikan National Library of Medicine tahun 2021, interaksi sosial intens di acara keluarga meningkatkan aktivitas otak di area yang terkait dengan keterikatan emosional, sehingga pengalaman tersebut lebih mudah diingat dan sering dipanggil kembali sebagai nostalgia.
Kalimat seperti “Ketemu kakek‑nenek setelah lama tidak bertemu” atau “Momen makan bersama di meja keluarga besar” bukan sekadar aktivitas tanpa makna. Secara neurologis, mereka membentuk memori emosional yang dalam.
4. Makanan Khas sebagai Pemicu Nostalgia
Setiap perayaan Lebaran biasanya diiringi dengan sajian makanan khas seperti ketupat, rendang, opor, nastar, dan kue‑kue tradisional.
Studi dari Current Biology pada 2023 menunjukkan bahwa bau makanan dan rasa adalah pemicu memori emosional yang kuat karena bau makanan diproses di area otak yang sama dengan pusat emosi.
Dalam survei kecil yang dilakukan oleh Departemen Psikologi Universitas Indonesia tahun 2024 terhadap 1.200 responden dari berbagai provinsi, 69 persen responden mengatakan bahwa rasa dan aroma makanan khas Lebaran langsung membuat mereka 'terbawa kembali' ke pengalaman Lebaran masa kecil.
5. Media Sosial Memperkuat Nostalgia Modern
Di era digital, nostalgia tidak hanya terjadi dalam ingatan pribadi, tetapi juga dipertahankan dan dipicu kembali melalui media sosial.
Platform seperti Instagram dan TikTok dipenuhi unggahan #ThrowbackLebaran, cerita keluarga, hingga klip video masa lalu yang membuat pengguna “merasakan kembali” momen Lebaran sebelumnya.
Menurut laporan We Are Social & Hootsuite Digital pada 2025, konten bertema nostalgia mengalami tingkat engagement yang lebih tinggi dibanding konten lainnya, terutama pada momen libur nasional seperti Lebaran.
6. Lebaran sebagai Identitas Budaya
Dari sudut antropologi budaya, Lebaran adalah ritual kolektif yang menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat Indonesia.
Ritual ini mengulang nilai‑nilai seperti silaturahmi, maaf‑memaafkan, berbagi, dan kebersamaan. Karena itu, Lebaran bukan hanya acara tahunan tetapi menjadi marker budaya yang mengikat kelompok sosial dan generasi.
Peneliti budaya, Dr. Fredrik Barth, mengatakan bahwa ritual yang melibatkan pertukaran sosial (seperti contohnya maaf‑maafan, pembagian THR, atau makan bersama) menandai status sosial dan hubungan antar‑anggota masyarakat.
Ini lebih lanjut memperkuat nostalgia karena kenangan tersebut bukan individual saja, tetapi kolektif.
7. Kembali ke Rumah: Neurosains Kesan 'Pulang'
Istilah mudik dalam budaya Indonesia berarti kembali ke rumah asal. Dalam psikologi, konsep homecoming atau pulang ke rumah asal telah lama dikaitkan dengan aktivasi area otak yang berhubungan dengan perasaan aman dan keterikatan emosional.
Menurut ulasan ilmiah di Frontiers in Psychology 2022, pengalaman kembali ke tempat asal setelah waktu yang lama berkaitan dengan rasa aman, keterikatan emosional, dan penguatan identitas diri yang semuanya dikenal sebagai komponen utama nostalgia.
Dari Rumah ke Hati: Lebaran Sebagai Jejak Memori Kolektif
Secara ilmiah, nostalgia bukan sekadar perasaan sentimental semata, tetapi hasil dari interaksi antara neurologi memori, keterikatan sosial, tradisi budaya, dan pengalaman sensorik.
Lebaran bukan sekadar ritual tahunan, ia adalah perjalanan emosional yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, menyatukan kenangan masa kecil, aroma makanan khas, tawa keluarga, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Setiap perjalanan pulang, setiap tatap muka dengan orang tua atau kakek‑nenek, serta setiap momen berkumpul di meja makan menjadi penguat memori yang membentuk identitas diri dan rasa keterikatan sosial.
Itulah mengapa Lebaran selalu membawa nostalgia: bukan hanya karena kenangan yang tersimpan, tetapi karena pengalaman kolektif ini menegaskan kembali siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai-nilai yang kita bawa sepanjang hidup. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

